Wisata Candi Borobudur Jawa Tengah: Menyusuri Jejak Sejarah dan Keindahan Alam

Liputan InfoWisata Candi Borobudur Jawa Tengah: Menyusuri Jejak Sejarah dan Keindahan Alam, Candi Borobudur sebuah mahakarya yang berada di Magelang Jawa Tengah merupakan salah satu destinasi wisata paling ikonik di Indonesia. Dibangun pada abad ke-8 selama masa pemerintahan Dinasti Syailendra, candi ini bukan hanya simbol kebanggaan nasional, tetapi juga sebuah warisan dunia yang diakui oleh UNESCO. Dengan segala pesonanya, Candi Borobudur menarik ribuan wisatawan dari berbagai belahan dunia setiap tahunnya. Artikel ini akan menggali lebih dalam mengenai sejarah, arsitektur, dan daya tarik wisata Candi Borobudur.

Wisata Candi Borobudur Jawa Tengah: Menyusuri Jejak Sejarah dan Keindahan Alam

Candi Borobudur didirikan sekitar tahun 800 Masehi oleh Raja Samaratungga dari Dinasti Syailendra. Dinasti ini terkenal sebagai penguasa besar yang menganut agama Buddha Mahayana di Nusantara. Candi ini dibangun di atas sebuah bukit dengan ketinggian 265 meter di atas permukaan laut dan terletak di antara dua gunung berapi kembar, Gunung Sundoro-Sumbing dan Gunung Merbabu-Merapi, serta diapit oleh Sungai Progo dan Sungai Elo. Posisi geografis ini mencerminkan konsep kosmologi Buddha yang menggabungkan keindahan alam dan filosofi spiritual.

Nama Borobudur sendiri dipercaya berasal dari kata “biara” yang berarti kompleks kuil atau biara dalam bahasa Sanskerta, dan “beduhur” yang dalam bahasa Jawa Kuno berarti di atas bukit. Oleh karena itu, Borobudur dapat diartikan sebagai “biara di atas bukit”.

Arsitektur dan Desain

Candi Borobudur memiliki bentuk stupa raksasa dengan tinggi sekitar 35 meter dan terdiri dari sembilan platform bertingkat enam platform berbentuk bujur sangkar dan tiga platform berbentuk lingkaran dan sebuah stupa utama besar di puncaknya. Desain ini mencerminkan mandala, yang merupakan diagram kosmologi Buddhis yang melambangkan alam semesta.

Bagian dasar candi menggambarkan dunia keinginan atau Kamadhatu. Di sini, terdapat relief yang menggambarkan kehidupan sehari-hari serta hukum karma. Tingkat menengah atau Rupadhatu melambangkan dunia bentuk, di mana manusia masih terikat oleh bentuk dan nama, tetapi sudah mulai bebas dari keinginan duniawi. Di bagian ini, terdapat sekitar 328 patung Buddha yang ditempatkan di relung. Bagian atas atau Arupadhatu menggambarkan dunia tanpa bentuk, yang merupakan tingkat tertinggi pencapaian spiritual. Di sini, terdapat stupa-stupa kecil yang melingkari stupa utama, dengan patung Buddha yang berada di dalamnya.

Setiap tingkat candi dihiasi dengan relief yang sangat detail, mencerminkan ajaran Buddha dan perjalanan spiritual menuju pencerahan. Total terdapat 2.672 panel relief yang menjadikan Borobudur sebagai candi dengan koleksi relief Buddha terlengkap dan terbanyak di dunia.

Pemugaran dan Konservasi

Candi Borobudur mengalami beberapa kali pemugaran dan konservasi sejak ditemukan kembali oleh Gubernur Jenderal Inggris, Sir Thomas Stamford Raffles, pada tahun 1814. Penemuan ini sebenarnya bukanlah hal yang disengaja, melainkan hasil dari laporan penduduk lokal tentang adanya bukit yang penuh dengan batuan berukir.

Pemugaran besar-besaran pertama dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1907-1911 di bawah arahan Theodoor van Erp. Namun, pemugaran ini masih jauh dari sempurna dan candi terus mengalami kerusakan akibat erosi dan aktivitas gunung berapi. Pada tahun 1973-1984, pemugaran besar kedua dilakukan dengan bantuan dari UNESCO. Proyek ini melibatkan pembongkaran dan penyusunan kembali lebih dari satu juta batu untuk memastikan stabilitas struktur dan melindungi relief dari kerusakan lebih lanjut.

Daya Tarik Wisata

Candi Borobudur menawarkan berbagai daya tarik bagi para pengunjung. Berikut adalah beberapa di antaranya:

1. Keindahan Arsitektur dan Relief

Arsitektur megah dan relief yang mendetail menjadi daya tarik utama Borobudur. Pengunjung dapat menyusuri lorong-lorong candi sambil menikmati cerita yang terpahat pada dinding candi. Setiap panel relief menceritakan kisah yang berbeda, mulai dari kehidupan Siddhartha Gautama (Buddha), ajaran-ajaran moral, hingga ilustrasi kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa kuno.

2. Pemandangan Matahari Terbit

Salah satu momen yang paling dinantikan oleh wisatawan adalah menyaksikan matahari terbit dari puncak Borobudur. Saat matahari perlahan muncul dari balik gunung dan menyinari stupa-stupa candi, suasana magis dan spiritual sangat terasa. Waktu terbaik untuk menikmati pemandangan ini adalah sekitar pukul 4.30 hingga 5.30 pagi.

3. Festival Waisak

Candi Borobudur juga menjadi pusat perayaan Hari Raya Waisak, yang merupakan peringatan hari kelahiran, pencerahan, dan wafatnya Siddhartha Gautama. Ribuan umat Buddha dari berbagai negara berkumpul di sini untuk mengikuti prosesi yang khusyuk dan meriah. Perayaan ini diakhiri dengan pelepasan lampion yang melambangkan harapan dan doa-doa.

4. Museum Karmawibhangga

Di dekat kompleks candi terdapat Museum Karmawibhangga yang menyimpan berbagai artefak dan informasi terkait sejarah dan pemugaran Borobudur. Museum ini menawarkan wawasan lebih mendalam tentang teknik konstruksi candi dan kehidupan di masa lalu.

5. Kegiatan Wisata Alam

Selain menikmati keindahan candi, wisatawan juga dapat menjelajahi keindahan alam sekitar Borobudur. Beberapa aktivitas yang populer termasuk bersepeda mengelilingi desa-desa sekitar candi, trekking ke Punthuk Setumbu untuk melihat pemandangan Borobudur dari ketinggian, atau menjelajahi perkebunan kopi dan cengkeh yang subur di daerah sekitarnya.

Jangan lupa kunjungi artikel sebelumnya Keindahan Wisata Nusa Penida di Bali yang Wajib Dijumpai

Upaya Pelestarian dan Tantangan

Seperti banyak situs warisan dunia lainnya, Candi Borobudur menghadapi berbagai tantangan dalam pelestariannya. Tantangan utama termasuk:

1. Erosi dan Kerusakan Alam

Borobudur terletak di daerah yang rawan erosi dan aktivitas seismik. Hujan lebat dan abu vulkanik dari letusan gunung berapi Merapi dapat merusak struktur dan relief candi. Oleh karena itu, upaya konservasi terus dilakukan untuk melindungi candi dari kerusakan lebih lanjut.

2. Pengaruh Manusia

Tingginya jumlah wisatawan juga membawa dampak negatif, seperti kerusakan pada struktur candi akibat gesekan dan tekanan kaki. Pengelola candi telah menerapkan berbagai aturan, seperti pembatasan jumlah pengunjung yang diperbolehkan naik ke bagian atas candi pada waktu tertentu untuk mengurangi dampak ini.

3. Pelestarian Budaya

Pelestarian Borobudur tidak hanya mencakup aspek fisik tetapi juga budaya. Program pendidikan dan pemberdayaan masyarakat lokal dilakukan untuk menjaga kelestarian tradisi dan pengetahuan tentang candi serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya situs ini sebagai warisan budaya.

Candi Borobudur bukan hanya sebuah bangunan kuno yang megah, tetapi juga sebuah saksi bisu sejarah dan pusat spiritualitas yang kaya. Keindahan arsitektur, detail relief yang mendalam, dan pemandangan alam sekitarnya menjadikan Borobudur sebagai destinasi wisata yang tak terlupakan. Dengan upaya konservasi yang terus-menerus dan kesadaran akan pentingnya pelestarian, Candi Borobudur akan tetap berdiri kokoh sebagai warisan dunia dan kebanggaan Indonesia. Bagi para wisatawan, mengunjungi Borobudur bukan hanya sebuah perjalanan wisata, tetapi juga perjalanan menelusuri jejak sejarah dan spiritualitas yang mendalam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *